Sebuah Pengakuan

|

Hai apa kabar kamu?
iya benar kamu..
Kamu yang dipojokan dengan segala gadget mewahmu
Jangan pasang wajah lelah dengan tatapan kosong itu!
Nanti aku jadi layu
Iya kamu kok...
Kamu yang tatonya di kanan kiri tangan, dengan wangi senja
Aku masih anggap kamu candu
Halo kamu...
Kamu yang kesedihannya membuatku ingin menghilangkan ingatan masa lalu mu
Iya benar kamu..
Kamu yang penuh sendu tak terbendung
Bisa pinjam waktumu sebentar?
Aduh.. Aku serius
Jangan kau permainkan aku dengan wajah lucumu
nanti, aku bisa jatuh cinta(lagi)
Iya aku benar memanggil kamu...
Kamu yang kini tengah bergenggam mesra bersama nya
Teruskan saja ,
Aku cukup bahagia melihat mu tersenyum penuh canda
Artinya hidupmu tak lagi buram
Iya iya aku berbisik kepadamu...
Aku masih berdoa dengan namamu terselip diahirnya
Iya iya aku lagi menatapmu..
Menatap punggungmu yang semakin jauh didepanku
Tak berbalik meski ku berteriak
Iya iya aku mohon maafkan aku..
Masih merindumu
Setiap pagi selalu menatap contactmu, menekan tombol hijau dan ditut pertama aku takut lalu berhenti
Iya iya ini salahku
Aku terus menarik kamu dipusaran alam bawah sadarku, tanpa jemu memantulkan bayangmu di segurat mimpi sore
Iya iya ini lukaku
Membiarkan aku egois terus berharap pada semu, kau melaju tanpa aku
iya aku mengaku..
Aku masih menulis namamu disudut sebagai pemilik hati belum berubah dan entah kapan berubah
Iya silahkan pamit
Ahirnya aku melambai tanpa menggenggam
aku meninggalkan sepucuk pesan
Hai kamu..
Bila kita memang tak bertemu diarus yang sama. Setidaknya ingatlah satu
aku pernah menerobos takdir hanya tuk memperjuangkanmu
meski ahirnya aku kalah teredam sorak sorai sekelilingmu

By Mimie Vinnetta on 04.14. Filed under , . Follow any responses to the RSS 2.0. Leave a response

Tidak ada komentar:

Leave a Reply