Kemana Rasa ini akan dipulangkan ?

|

A dakalanya harus memilih bagaimana dan kemana perasaan cinta harus dipulangkan ;
 mewujudkannya dalam penantian tanpa batas atau melupakan dan memendamnya.
Aku memilih keduanya, menanti dan memendamnya sembari melabeli sebagai kenangan tak berbatas.
Dipojok kanan atas hatiku berbaris rapi namamu dalam tulisan romawi.
Disitulah tempatnya tak terganti terpatri mati
Aku mampu mengendalikakn apa saja, ya apa saja terkecuali mengendalikan hatiku tuk berhenti memutar suara renyahmu disetiap kuberkedip
Sudah ratusan kali aku mengikis. Sayangnya wajahmu berseri disetiap hari dalam lelapku. Lelahkah aku? Jawabnya ia
Berjalan di pertengahan tangga anak ketiga kucoba bahgya namun apa daya aromamu buatku tak berdaya
Disetiap kata sebelum aminku kuselipkan namamu,
Bolehkah aku hanya berharap pada takdir semesta?
Lalu bagaimana jika di suratan tak ada namaku di tujuan amplop darimu?
Maka Aku akan semakin terjebak
Dikota ini, dijalanan yang bahkan tak kuhafal namanya ada tersimpan cerita perjalanan kita. Mengarungi malam malam tanpa jeda, menerjang dinginnya gemintang
Kita pernah berbagi berbagai cerita nyata , maya , fiksi di hembusan yang sama.
Namun kini seolah tak sama, hanya aku dan tinggal aku bersenandung riang menunggumu diperempatan
Dibawah terik diatas genangan perih, aku memagut rasaku kuat2 dan sangat kuat agar ia tak pergi
Menantimu dan terus mematri bahwa kau selalu kau
Entah sampai kapan, entah seperti apa kelak
Saat ini aku masih terjebak sendiri tak dapat keluar dilabirin perasaan ini, perasaan yang disebut pujangga sebagai racun mematikan seantero semesta
Perasaan yang lebih memabukan dibanding segelas wine
Dan juga sangat memuakkan seperti aroma sampah
Ia berdiri disekat sama diantara kebencian dan suka
Tidak putih tak pula hitam,
Hingga bait terahir yang tengah kutulis ini aku masih belum bisa memutuskan dimana dan kemana akan kulabuhkan racun mematikan di benakku ini
Aku tetap saja melabelinya dengan lakban 'masih mencintaimu' dan sepertinya tak akan lelah menunggumu.
Hingga kau akan menyadari aku selalu ada disamping bayanganmu menggenggam legammu ketika payah
Tersenyum jauh ketika kau bahgya
Terlena menantimu hingga ku lupa akan anganku sendiri
Percayalah, ketika kau tak punya hati untuk pulang maka ada aku berdiri meski telah payah aku meniti :)

Untukmu ,

By Mimie Vinnetta on 20.45. Filed under , . Follow any responses to the RSS 2.0. Leave a response

Tidak ada komentar:

Leave a Reply